Kamis, 09 Februari 2017

Pilih Curhat atau Nulis??


Saat seseorang mampu menyampaikan apa yang dia inginkan atau apa yang dia maksud, maka dia akan mendapatkan kepuasan tersendiri.  Hal ini terkait dengan teori kebutuhan maslow tentang aktualisasi diri.  Sama halnya saat pesan yang ingin disampaikan tertahan maka akan menjadi beban tersendiri bagi seseorang. Maka tak heran saat seseorang bisa curhat, bercerita, bersedekah, sampai menulis, dia akan merasa lebih plong. Dikutip dari situs www.psikologikita.com disebutkan Penelitian awal tentang manfaat menulis ekspresif dilakukan oleh Pennebaker & Beal tahun 1986 di Amerika. Hasilnya menyebutkan bahwa kebiasaan menulis tentang pengalaman hidup yang berharga dapat menurunkan masalah kesehatan. Beberapa penelitian yang lainnya menyebutkan bahwa menulis dalam jangka panjang dapat menurunkan stres, meningkatkan sistem imun, menurunkan tekanan darah, mempengaruhi mood, merasa lebih bahagia, bekerja dengan lebih baik dan mengurangi tanda-tanda depresi. Sedangkan dalam aspek sosial dan perilaku, menulis dapat meningkatkan memori, nilai rata-rata siswa sekolah, dan kemampuan sosial linguistik.  

Jika kita tau film Habibie & Ainun, Rudy Habibie atau bahkan serial berikutnya, siapa sangka jika film ini berawal dari curhatan Bapak Bj Habibie yang memutuskan untuk menulis buku tentang kisah cintanya. Mungkin sesuatu yang diluar dari kebiasaan, seorang ilmuan yang bicara tentang cinta. Bukan tanpa sebab sebenarnya. Ini dilakukannya karena dia ingin meluapkan emosinya dalam tulisan. Saat kehilangan istri tercintanya yakni Hasri Ainun Besari atau Ainun, Habibie sangat terpukul saat itu. Habibie kemudian konsultasi dengan profesor dokter yang telah menjadi langganan keluarga. Hasil pemeriksaan itu menyatakan hubungan Habibie dan Ainun terlalu dekat. Sehingga Habibie mengalami Psikosomatis, sehingga dia tenggelam dalam kesedihan. Menurut tim dokter, jika dia tak berbuat apapun, Habibie bisa mengikuti jejak istrinya. Maka, dokter pun memberi empat saran. Pertama, Habibie dirawat di rumah sakit jiwa. Kedua, tetap di rumah tapi ada tim dokter dari Indonesia dan Jerman yang ikut merawat. Ketiga, curhat kepada orang-orang yang dekat dengan Habibie dan Ainun. Keempat, dengan menulis. Kemudian Habibie memilih Saya untuk menulis. Ternyata Pilihan Habibie tak salah. Ia pelan-pelan dapat menenangkan dirinya dan buku Habibie & Ainun pun laris manis. Buku ini telah dicetak ke dalam beberapa bahasa, selain Bahasa Indonesia tentunya, yakni seperti Inggris, Arab, dan Jerman.

Dari pelajaran Habibie & Ainun (yang lain waktu saya coba buat resensinya) dapat kita ambil hikmah bahwa bagaimana beban masalah dapat lebih ringan jika bisa dituangkan dalam bentuk tulisan selain dengan curhat kepada orang lain. Memang tentu ada perbedaan antara curhat dan menulis, curhat cenderung menyampaikan ungkapan hati dalam bentuk verbal atau berbicara pada suatu objek, bisa kepada orang lain, diri sendiri, benda bahkan kepada Tuhan, tentu anda harus lah  memilih obyek curhat yang paling dipercaya. Sedangkan dalam menulis memang lebih sulit karena perlu adanya konsep tulisan dan menuangkan isi fikiran kedalam tulisan semisal dengan menulis keresahan permasahlahan di media massa, buku termasuk yang suka curhat di media sosial. Memang semua itu sah-sah saja asal tidak menyinggung pihak lain dan masih dalam batas kewajaran. Yang jelas ternyata kedua hal tersebut memiliki manfaat bagi kesehatan mental sesuai pilihan yang diajukan tim dokter pada Pak Habibie saat dirinya mengalami gangusn psikosomatis dan depresi berlebih saat kehilanagn ibu Ainun. Jadi jika ada pertanyaan pilih curhat atau nulis? anda pilih mana?

Romatis ya kisahnya Pak Habibie dan Ibu Ainun. Simak juga Kisah Cinta abadi berikut ini.



Sumber
http://www.psikologikita.com/?q=psikologi/terapi-menulis-untuk-kesehatan-jiwa


Minggu, 22 Januari 2017

Coban Lawe

Haii,,
Sudah lama saya tidak menyapa di Blog, mungkin benar kata teman blogger jika buat blog atau bisa nulis saja tidak cukup untuk jadi blogger, ya walaupun memang saya masih jauh dari itu. Memang rutinitas yang panjang kadang membuat seseorang melupakan hal-hal yang penting untuk psikologinya termasuk menulis atau membaca. Kehebatan media sosial sekarang ini cukup menyamarkan kegiatan menulis dan membaca, semisal rajin pasang foto di IG plus tulis caption tapi blog-nya kosong (cuma memotifasi diri sendiri). Baiklah, tentang kegiatan menulis mungkin bisa kita bahas di lain kesempatan yaa. Kali ini saya ingin membahas kegiatan lain selain menulis yang juga baik buat psikologis kita, apa itu? dia adalah berekreasi.


Kenapa saya akhirya setuju jika rekreasi baik untuk psikologi, karena menurut teori maslow dalam aktualisasi diri. Ceritanya berawal dari mengisi waktu liburan, pas keluarga lagi kumpul cap cip cup mau kemana buat buktikan kebenaran gambar-gambar wisata lokal baru di media sosial. Akhirnya pilihan jatuh di coban lawe. Mungkin belum banyak yang tahu, coban Lawe berada di Desa Krisik Kecamatan Pudak Kabupaten Ponorogo. Ditempuh menggunakan mobil sekitar 30-45 menit tergantung kondisi. Rutenya cukup mudah saya rasa, dari alun-alun kota ambil arah lurus ke timur sampai perempatan Pulung, sedangkan perempatan pulung ambil arah ke timur sekitar 12 Km masuk desa krisik harus lebih peka karena tanda kurang begitu jelas, kemudian belok kiri naik jalan beton.

Tak lama dari jalan besar kamu akan masuk di perkampungan warga. Memang tempat wisata ini kendala utamanya adalah akses jalan. Namun ada beberapa alternatif, pertama bagi anda yang suka tracking selain bisa berwisata juga akan lebih menarik jika memanfaatkan medan untuk tracking, motor track mungkin jadi pilihan yang menarik. Bagi anda yang membawa mobil bagi anda yang mengendarai mobil saya sarankan parkir di permukiman warga dan jangan memaksakan diri untuk parkir di tempat yang lebih tinggi karena nanti akan kesulitan putar balik untuk turun, kemudian anda bisa memanfaat ojek untuk bisa menuju tempat wisata yang jaraknya sekitar 1,5 km dari permukiman warga. Kemarin hanya dengan sepuluh ribu rupiah, akan terbayar dengan keindahanya tanpa harus kelelahan naik menuju Coban, adrenalinpun akan cukup terpacu hanya dengan menaiki ojek.

Waktu saya datang ke coban, pengunjung bisa dibilang cukup banyak, parkiranpun penuh. Ngomong soal parkir, pengunjung harus membayar biaya parkir hanya Rp. 2000,- , tanpa adanya pembayaran tiket masuk. Tenang, perjalanan panjang akan terbayar dengan bening dan derasnyanya air coban, jadi jika anda mengambil foto di tempat ini, mungkin tidak terbayang bila Coban Lawe adalah wisata lokal Ponorogo karena keindahanya. Kabarnya ada beberapa coban/ air terjun di tempat wisata ini, ada coban 1 dan 2, coban 1 ada di bagian bawah dan coban 2 ada di bagian atas. Namun memang iya pengelolaan yang kurang baik, serta akses jalan yang cukup sulit, membuat pengunjung cukup mengeluh.


Jika anda sudah puas menikmati nuansa air terjun, untuk menghangatkan suasana bisa duduk-duduk menikmati pemandangan hutan di warung yang ada di bagian parkiran. Selain itu juga ada pedagang susu segar yang merupakan petani lokal yang ada di sekitar Coban. Nampaknya pemberdayaan masyarakat sekitar sudah mulai berjalan, mulai dari peternakan sapi perah, pertanian, hingga tanaman sayuran, hanya saja untuk pemberdayaan bagi fasilitas wisata masih sangat jarang semisal toko makana, MCK, dan sebagainya. Tak jarang karena jalan yang sempit, papasan jalan pun dengan motor lain harus berhati-hati, kadang saat motor pengangkut rumput gajah untuk pakan ternah, kita harus sangat menepi atau merunduk, kataku "awas sapu bersih lewat", hahaha. 



Setelah anda puas menikmarti tempat wisata ini saya sarankan anda anda menuruni medan yang terjal dengan berjalan kaki, ya meskipun tukang ojek akan stay di area coban. Tanya kenapa? karena anda akan disuguhi pemandangan yang menyanangkan yakni pemandangan hutan dan kebun sayur, bahkan juga ada tempat pengolahan susu segar. menurut saya cukup potensial sebagai agro wisata, jadi selain pemandangan air terjun bisa dibuat wahana wisata lain seperti mungkin wisata pengolahan susu segar atau wisata pertanian/ penanaman buah dan sayur, sehingga jarak jalan raya ke coban tidak terasa berat, terlepas memang perbaikan jalan memang dibutuhkan. Mungkin logikanya adalah jika naik gunung tentu energi yang dibutuhkan cukup besar jadi naik ojek adalah alternatif yang tepat, namun jika turun gunung energi yang dibutuhkan tidaklah begitu besar, jadi selain berhemat juga akan menjadi olahraga yang menyenangkan.

      




Kamis, 27 Oktober 2016

Hati Yang Tergugah


Selamat hari jum’at kawan, semoga kesehatan, keselamatan dan kedamaian hati selalu menyertai kita, karena ternyata itulah rejeki luar biasa yang Allah berikan pada umatnya. Jujur pagi ini hatiku masih campur aduk antara sedih, malu, tapi juga syukur. Hal ini berawal dari hari kemarin yang sebenarnya berlangsung seperti biasa. Selain siaran aku memiliki kewajiban membantu administrasi kantor di radio tempatku bekerja. Waktu itu aku disibukkan dengan tugas melayani pembelian obat dari sponsor radio. Sambil aktifitas teman kerjaku bercerita tentang beberapa hari lalu ada kecelakaan di jalan Batoro Katong Ponorogo, antara pengendara motor yang katanya pelajar STM dengan pengendara sepeda yang merupakan pelajar SMP, dan akhirnya pengendara sepeda meninggal dunia. Memprihatinkan, ternyata keluarga korban meninggal adalah keluarga tidak mampu yang sangat membutuhkan bantuan. Awalnya aku tidak memperdulikan berita itu, aku melanjutkan aktifitasku seperti biasa.



Hal yang paling tidak aku sukai saat bekerja adalah jika harus menggantikan teman siaran secara mendadak, dan hari itu terjadi padaku. Rasa dongkol pun menggelayut masuk ke ruang siaran, sampai terbawa di on mic. Namun hal itu berakhir saat ada pendengar streaming radio dari TKW Taiwan yang mengupload foto-foto rumah yang membuatnya menangis. Dia katakan foto-foto didapatnya dari teman TKW lain, foto itu adalah gambar rumah bapak Hasan Pujo di jalan Batoro Katong yang perlu bantuan karena tidak layak huni. Aku jadi teringat cerita teman kantor tentang Mifta, kemudian aku cari informasi temanku sebelumnya dari kesimpangsiuran berita. Dan ternyata benar Miftakhul Dwi Khasanah (13 tahun) adalah putri bapak Pujo (50 tahun) yang sebelumnya mengalami kecelakaan dan sempat dilarikan ke RS. Sudono Madiun karena luka serius di bagian kepala namun nyawanya tidak tertolong.



Mifta adalah anak pertama yang juga harus ngopeni bapaknya yang buta dan adiknya Jopi Muhammad Zamnas (10 tahun). Pak Pujo menderita kebutaan (belum buta total, masih bisa melihat sedikit), sedangkan ibunya Mifta sejak 10 tahun lalu pergi ke Malaysia untuk menjadi TKW. Mifta dan keluarganya tidak mengetahui keberadaan dan juga kabar terakhir ibunya. Jadi selama ini Mifta lah yang menggantikan ibunya mengerjakan tugas rumah mulai dari memasak, mencuci sampai membersihkan rumah dibantu adik dan bapaknya. Karena bapaknya buta, mifta dan adiknyalah yang bergantian mengantarkan bapaknya ke tempat orang yang biasa memanggilnya untuk memijat, Pak Pujo seorang tukang pijat panggilan. Dari situlah keluarga ini mendapatkan penghasilan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. 



Akupun mencoba meluruskan kesimpangsiuran kabar yang tadi diterima dari pendengar dari Taiwan. Karena memang komunitas TKI (Tenaga Kerja Indonesia) atau TKW (Tenaga Kerja Wanita) di Ponorogo sangatlah besar, jadi kabar di dalam negeri pun cepat merebak melalui sosial media. Ternyata respon serupa juga dialami oleh beberapa pendengar di Ponorogo yang juga iba melihat di sosial media tentang kejadian yang dialami Mifta ini. Ya Allah hatiku trenyuh seketika, aku malu karena selama ini masih sering mengeluh atas hal yang kurang mengenakan dalam hidupku. Memang manusia hidup dengan nikmat dan cobaanya masing-masing. Namun jika kesempatan hidup telah berakhir, tidak ada lagi yang bisa disyukuri.  

Namun pagi ini aku sedikit lega setelah kulihat sosial media, sebab setelah masyarakat mengetahui kondisi keluarga Mifta. Alhamdulillah berbagai bantuan mulai diterima keluarga Mifta, bahkan katanya ada seorang dermawan yang mau menanggung biaya sekolah adik Mifta sampai SMA dan semoga istiqomah. Iya itulah dampak positif sosial media, dengan cepat mampu menggerakkan para pemilik akun. Tentu ini lebih manfaat daripada sekedarmenghujat atau hiburan. Jika dari sosial media beberapa waktu lalu ada kisah bapak penjual nasi uduk dan kali ini tentang Mifta. Mungkin bisa dilanjutkan untuk kegiatan positif lainnya. Atau bahkan ada Mifta – Mifta yang lain disekeliling kita yang perlu kita bantu. Selain keadaan Keluarga Mifta di Ponorogo pun, nitizen Ponorogo dan sekitarnya juga berusaha menelurusi keberadaan ibu Mifta yang bernama Samini Indrawati (36 tahun) yang kabarnya jadi TKW di Malaysia, melalui pesan berantai di Facebook.


Semoga kisah hidup Almarhumah adik Mifta dan keluarganya ini benar-benar bisa menjadi pelajaran bagi kita, yang masih sering mengeluh karena hal-hal yang sepele. Selain itu menjadi pelajaran untuk bisa membuka mata, telinga dan hati untuk berbagi dengan sesama. Mungkin  banyak mifta-mifta lainya yang perlu bantuan kita. Hari ini hari Jum’at, bisa kita isi dengan hal manfaat, contohnya sedekah. Dan ternyata sedekah itu macam-macam bentuknya dan manfaatnya. Bismillah..




   

Selasa, 25 Oktober 2016

'Tips Mengatasi Anyang - Anyangan dengan Uri-Cran'

Menjadi Penyiar radio tentu membutuhkan konsistensi, terutama untuk memenuhi jam siaran, menyampaikan informasi secara berimbang, bahkan profesionalitas pun harus dijaga. Kadang tetap tersenyum saat sebenarnya sedang sedih atau sakit adalah hal biasa dilakukan. Saya jadi teringat pengalaman saat siaran. Suatu ketika saya mengasuh acara yang membahas tentang tips kesehatan, ada ibu pendengar yang minta dicarikan tips tentang bahasa jawanya anyang-anyangen, saya kurang tahu gangguan ini bahasa kerennya apa, namun menurut artikel yang saya baca anyang-anyangan merupakan nyeri/ sakit buang air kecil, yang kata dokter bisa menjadi salah satu indikasi seseorang terkena Infeksi Saluran Kemih. 

Ada 2 jenis penyakit Infeksi Saluran Kemih, yaitu Infeksi Saluran Kemih bagian atas & Infeksi Saluran Kemih bagian bawah. Infeksi Saluran Kemih bagian bawah dinamakan Sistitis. Infeksi Saluran Kemih bagian atas kuman menyebar lewat saluran kencing, ginjal, & bahkan seluruh tubuh. Sehingga dampak lanjutannya penderita akan mengalami infeksi ginjal & urosepsis. Itu sebabnya penyakit ini sama sekali tak boleh dianggap remeh. Sering membilas kemaluan dari belakang ke depan setelah buang air? Segera hentikan kebiasaan ini karena bisa menjadi salah satu penyebab anyang-anyangan atau infeksi saluran kemih (ISK). Hal ini disebabkan uretra atau saluran kencing yang meneruskan urine dari kandung kemih ke bagian luar tubuh terletak dekat dengan anus. Membilas dari belakang ke depan mengakibatkan bakteri dari usus besar, seperti bakteri E coli, dapat keluar dari anus dan masuk ke saluran kencing. Bakteri ini kemudian menginfeksi kandung kemih yang jika tidak segera diobati juga dapat menginfeksi ginjal. 

Apapun istilah kerennya tapi memang penyakit ini tidak keren sama sekali, justru malah mengganggu aktifitas kita, semisal saat saya pernah siaran yang membutuhkan konsentrasi tinggi namun harus menahan sakit karena anyang-anyangan ini. Tentu penanganan yang tepat perlu dilakukan untuk mencegah dampak lebih buruk lagi. Dan dari artikel yang saya baca dan masukan dari pendengar yang lain banyak obat/ cara tradisional yang bisa dilakukan, mulai dari yang mengikat jempol kaki, minum air jeruk nipis, minum godogan daun kumis kucing, pijat refleksi, sampai periksa kedokter pun dianjurkan. Sampai akhirnya teman yang merupakan dokter di salah satu rumah sakit swasta di daerah saya yang kebetulan mendengarkan siaran, memberikan tips untuk perbanyak minum air putih, pola hidup sehat dan ekstrak Cranberry mampu mengatasi masalah anyang anyangan. Kemudian saya berfikir, di daerah seperti tempat saya tinggal sangat sulit mencari cranberry.

Kemudian saya mencoba mencarinya di internet saya klik www.mypriveworld.com , dan bertemulah saya dengan uri-cran yaitu ekstrak canberry yang memang ampuh untuk mengatasi susah buang air kecil dan anyang-anyangan. Ternyata memang benar dijelaskan ekstrak Cranberry, yang di dalamnya mengandung Proantocyanidin berfungsi untuk mencegah dan menangkap bakteri yang menempel pada saluran kemih. Sehingga mampu mencegah parahnya infeksi saluran kemih dan dampaknya yang lebih parah. Rasanya enak dan kemasaanya praktis jadi bisa dibawa kemana-mana, serta mudah dibeli di apotek. Jadi saya tidak perlu bingung lagi anyang-anyangan pada saat siaran, kan ada uri-cran. Setidaknya selesei sudah permasalahan untuk masalah anyang-anyangan, tentu bisa saya rekomendasikan pada pendengar yang memiliki masalah yang sama, agar aktifitasnya tetap lancar walau sempat mengalami anyang-anyangan.


 

Jumat, 14 Oktober 2016

Dilematika Kemasan Laundry



Cerita ini berawal dari keresahan saya dalam penggunaan tas kresek. Suatu ketika saya membaca tulisan pada Rubrik Kompasiana dengan judul: “Kemasan Laundry Berpotensi Menjadi Sumber Sampah Plastik!”. Tentu plastik bukan sesuatu yang simpel dalam tulisan tersebut, karena berkenaan dengan UU No. 18 Tahun 2008 Tentang Pengelolaan Sampah. Penggunaannya pun diatur dalam Surat Edaran Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Direktorat Jenderal Pengelolaan Sampah, Limbah dan Bahan Berbahaya dan Beracun Nomor: S.1230/PSLB3-PS/2016 tentang Harga dan Mekanisme Penerapan Kantong Plastik Berbayar SE 1230/2016. Aturan ini disepakati oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) dengan Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN), Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), dan Asosiasi Pengusaha Ritel Seluruh Indonesia (APRINDO).

Cukup membingungkan jika harus membahas aturan, namun secara tidak langsung sampah plastik memang berdampak buruk bagi lingkungan. Alasan mengapa sampah plastik berdampak buruk bagi lingkungan karena sifat plastik yang memang susah diuraikan oleh tanah meskipun sudah tertimbun bertahun-tahun. Plastik baru bisa diuraikan oleh tanah setidaknya setelah tertimbun selama 200 hingga 400 tahun. Bahkan ada sebuah penelitian yang menyebutkan bahwa sampah plastik bisa terurai dalam waktu 1000 tahun lamanya. Proses lamanya terurai inilah yang kemudian mengakibatkat dampak sampah plastik buruk bagi lingkungan, seperti munculnya zat kimia yang dapat mencemari tanah sehingga berkurang tingkat manfaat dan kesuburannya. Selain itu, dengan proses yang susah diuraikan, sampah plastik juga dapat membunuh sang pengurai tanah. Sehingga wajar saja apabila tingkat kesuburan yang dimiliki tanah berkurang. Dengan mengetahui fakta ini alangkah baiknya kita, selaku masyarakat Indonesia, menyadari bahwa penggunaan plastik sebenarnya tidak baik, apabila secara berlebihan dalam penggunaannya. Dan juga janganlah lupa untuk tidak membuang sampah secara sembarangan, termasuk sampah plastik.

Jika anda mulai bertanya apa hubungan dilematika sampah plastik dengan kehidupan saya?. Jawabnya karena saya memiliki usaha laundry kiloan di rumah. Tidak bisa dipungkiri penggunaan plastik dan kresek setiap harinya membutuhkan biaya yang tak sedikit. Maraknya minimalisir penggunaan kantong plastik, cukup menyita fikiran saya. Alhasil saya harus putar otak untuk membantu pemerintah dan masyarakat dalam rangka go green. Belum sepenuhnya memang karena biasanya pakaian setelah dicuci dan diberi pewangi harus dimasukkan plastik agar wanginya bertahan lama. Namun yang kemudian terfikirkan oleh saya adalah dalam penggunaan kresek/ tas plastik besar sebagai wadah kemasan laundry. Biasanya pelanggan menggunakan tas kresek untuk mewadahi baju-baju kotor menuju laundry. Namun tak jarang kresek hanya bisa digunakan beberapa kali yang akhirnya jadi sampah. Beberapa laundry lain di tempat lain memakai kresek dengan label mereka sebagai service untuk pelanggan sekaligus promosi.

Dari kebutuhan wadah kemasan dan keresahan penggunaan kantong plastik inilah akhirnya terfikirkan untuk membuat sendiri wadah ramah lingkungan, sebagai kemasan yang tentu bisa digunakan berulang kali oleh pelanggan. Sudah bukan hal biasa laundry yang menggunakan totebag/ tas kain, mungkin saya bisa pesan/ membelinya dengan mudah, namun saya putuskan untuk membuatnya sendiri. Kebetulan saya bisa jahit, sehingga selain mencuci baju dan menyetrika, menjahit baju yang rusak memang bagian dari service laundry kami. Selanjutnya saya putuskan untuk membeli kain yang cukup murah namun kuat, saya potong dan kombinasikan dengan warna yang menarik. Saya siapkan peralatan yang dibutuhkan, jahit sendiri totebag tersebut, dan sebagian saya berikan pada pelanggan setia sebagai penghargaan karena telah setia bersama laundry saya. Kemudian totebag ini saya sablon dengan label laundry saya maka akan mampu jadi sarana promosi juga. Bahkan sempat iseng saya upload di media sosial sebagai produk untuk dijual, dan ternyata ada berbagai tanggapan di kolom komentar. Semoga dapat jadi inspirasi teman laundry yang lain.

Jadilah totebag/ tas laundry yang semoga bermanfaat untuk pelanggan ala Antary Laundry dan Jahit. Mungkin ini langkah awal saya untuk mewujudkan laundry yang go green. PR saya selanjutnya adalah sepenuhnya menghapus pengggunaan kantok plastik untuk kemasan laundry, menggantinya dengan plastik ramah lingkungan atau menggunakan kertas sebagai gantinya . Bagi rekan-rekan yang memiliki ide kritik dan saran saya tunggu ^_^